Petunjuk Tugas Praktikum XI ATP - 21 Februari 2017

Petunjuk :
1. Gunakan pakaian kerja (APD) lengkap
2. Utamakan keselamatan kerja, pergunakan alat sesuai penggunaan.
3. Bersihkan kembali alat yang telah digunakan

Prosedur Kerja :
1. Pastikan alat berfungsi dengan baik.
2. Bersihkan gulma pada areal tanaman perkebunan tersebut.
3. Gemburkan tanah disekitar tanaman.

Target :
1. Areal pertanggungjawaban setiap kelompok bebas dari gulma.
2. Sekeliling tanaman gembur, kecuali tanaman kopi

Kegiatan Pemeliharaan Kebun SMKN 1 Kuala Cenaku sebagai berikut :
1. Tanaman Kakao + Pisang  -----  Kelompok I (Satu)

  1. AJI ANUGRAH   (Ketua)
  2. ANDRE YUFRIANTAMA
  3. RAHADI ALFANI
  4. INDRA SANGKANA WIJAYA. K
  5. AZWAR ANDI
  6. RIO AGUS EFENDI
  7. SUCI SALSABILA
  8. R. KRISTINA 
  9. VIA AGUSTINI

2. Tanaman Tebu ------ Kelompok II (Dua)
  1. ANGGA KURNIAWAN (Ketua)
  2. ANDRE ANTO
  3. ARDIANTO
  4. HENGKI WIBOWO
  5. RAHMAT
  6. SUGIONO
  7. SHANTY ANDRAYANI
  8. RINAWATI
  9. LENI YULIANA
3. Tanaman Karet ---- Kelompok III (Tugas)
  1. EKA JUPRIANTO (Ketua)
  2. ERLIAN JULI HENDRA
  3. M. ANTONI
  4. MASROHAN
  5. RAHMADIAN SAPUTRA
  6. PURWATI
  7. SITI MAIMUNAH
  8. RISMAWATI
  9. DAHNIAR HAIRIAH
4. Tanaman Kopi ------- Kelompok IV (Empat)
  1. MUHAMMAD LUKMAN (Ketua)
  2. GUNAWAN
  3. SUBRIZAN
  4. KHAIRUDIN
  5. MEMO ZALPUTRA
  6. RISNA ANGGELA PUTRI
  7. WAHYU ANGGRAINI
  8. MAYA LESTARI

Selamat bekerja....

2. Mendiagnosa gangguan hama

Ada dua materi :
1.      Bentuk kerusakan tanaman akibat hama

2.      Gangguan yang ditimbulkan oleh hama

1.   Bentuk kerusakan tanaman akibat hama
Untuk mendiagnosa gangguan apa yang ditimbulkan oleh suatu hama tanaman, dapat dilakukan melalui pengetahuan tentang bagaimana kondisi tanaman yang rusak atau mengalami gangguan oleh suatu hama tanaman, atau bentuk-bentuk kerusakan dari tanaman dan kotoran yang ditinggalkan oleh organisme pengganggu tanaman bersangkutan atau juga disebut gejala kerusakan tanaman.
1.   Hama tanaman dari kelompok vertebrata seperti gajah misalnya dapat menyebabkan pembibitan tanaman mejadi porak poranda oleh injakannya atau belalainya. Babi hutan dapat menyebabkan tanaman muda termakan seperti bagian batang muda kelapa sawit
2.  Bentuk kerusakan tanaman oleh hama tanaman dari kelompok invertebrata terutama dari golongan serangga banyak ditentukan oleh tipe alat mulut dari pada serangga yang melakukan pengrusakan

2. Gangguan yang ditimbulkan oleh hama

Ada banyak bentuk masalah yang disebabkan oleh hama tanaman, seperti rusaknya bagian tanaman, mulai dari bagian paling atas tanaman atau pucuk sampai keakar terbawah dapat mengalami kerusakan oleh hama tanaman.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap berkembangnya permasalahan hama tanaman adalah Iklim dan unsur-unsurnya (sinar matahari, curah hujan, kelembaban, dll).

Karena pengaruh unsur-unsur iklim tersebut hama tanaman yang bersifat endemis pada suatu daerah biasanya dapat mereda dan menurun populasinya, atau sebaliknya dapat eksplosif, sehingga populasi meningkat.

Keadaan alam dapat menyebabkan lingkungan hidup menjadi merosot kondisinya atau kondisi lingkungan hama tanaman menjadi meningkat/lebih baik, disamping itu faktor-faktor lain seperti cara budidaya (persiapan lahan, penanaman, pengairan, pemupukan dsb) juga sangat mempengaruhi perkembangan hama tanaman

Mengendalikan Hama pada TBM dan TM

Kompetensi Dasar :
1.Mengidentifikasi hama
2.Mendiagnosa gangguan hama
3.Menghitung kerusakan akibat gangguan hama
4.Mengidentifikasi metoda pengendalian hama
5.Melakukan pengendalian hama

1. Mengidentifikasi hama
Hama adalah semua binatang yang dapat merugikan tanaman yang dibudidayakan oleh manusia. Akibat serangan hama, produktivitas tanaman menjadi menurun, baik kualitas maupun kuantitas.
Hama dapat dikelompokkan menjadi :
1.  Serangga (Insecta) : Walang sanget
2.  Binatang menyusui (mamalia) : Babi, tikus.
3.  Binatang lunak (mollusca) : Keong, bekicot.
4.  Binatang kaki delapan (acarina) : tungau.

Secara umum, pengenalan serangan kelompok serangga dapat diketahui dari tanda-tanda atau gejala yang nampak pada bagian tanaman yang rusak. Tanda-tanda atau gejala serangan serangga hama yang biasa muncul di lapangan yaitu berkaitan dengan tipe alat mulut hama.

Tipe-tipe alat mulut hama beserta gejala atau tanda-tanda kerusakan yang ditimbulkannya, antara lain:
1. Menggigit-mengunyah.

  • Tanda serangan pada daun tampak sobekan, gerekan, berlubang-lubang, daun tinggal tulang, daun menggulung dan daun habis sama sekali.
  • Tanda serangan pada akar menyebabkan tanaman layu dan akhirnya mati.
  • Tanda pada polong atau buah tampak berlubang, atau ada bekas gerekan
2.  Menusuk-menghisap.

  • Tanda serangan pada polong atau biji banyak noda hitam bekas tusukan
  • Daun yang terserang menjadi layu dan kering
3.   Menghisap yaitu biasanya pada kutu-kutu tanaman

  • Tanda serangan pada daun yaitu munculnya cendawan jelaga
  • Daun yang terserang berbentuk tidak normal, kerdil, menggulung/keriting ke dalam
  • Bercak-bercak klorosis pada daun
4. Meraut menghisap yaitu pada thrips

  • Tanda serangan pada daun terdapat bercak berwarna putih keperakan
  • Tanaman tumbuh kerdil
  • Jika menyerang bunga, mahkota bunga akan menjadi gugur
Selanjutnya, untuk mengenali hama dapat dilakukan dengan menganti organismenya. Berikut ini akan kita bahas mengenali hama melalui pengamatan langsung.

1.    Mengamati hama tanaman perkebunan
Sampel/contoh hama
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh sampel hama yang menyerang tanaman yaitu menangkap langsung hama tersebut.
Penangkapan hama kelompok vertebrata, seperti gajah, babi hutan atau tikus, dapat dilakukan dengan menggunakan perangkap.
Kelompok invertbrata, seperti; serangga atau tungau dapat menggunakan perangkap seperti botol perangkap, lampu perangkap, jaring serangga (sweep net), atau menangkapnya langsung dengan tangan, atau menggunakan kuas untuk menangkap jenis kutu-kutu

2.     Jenis hama tanaman perkebunan
1.Kera (Prebytis sp dan Macaca fascicularis), memakan pucuk dan buah sambil mematahkan ranting-ranting tanaman, misalnya karet.
2.Gajah, Gangguannya selalu muncul di pembukaan areal baru bekas hutan, gangguan hanya bersifat sementara namun kerusakan yang ditimbulkannya sangat luar biasa
3.Kumbang penggerek (Oryctes sp), menyerang tanaman kelapa sawit yang berumur kurang dari 2 tahun, juga menyerang tanaman kelapa membuat lubang gerekan pada pangkal batang mengarah pada titik tumbuh tanaman.
4.Rayap (Coptotermes curvinatus), merusak perakaran atau batang dengan membuat lorong-lorong diluar atau di dalam kulit batang
5.helopeltis sp., menyerang tanaman teh dll, merusak pucuk serta daun yang masih muda, sebagai akibat serangan ini daun teh menjadi kotor, bercak-bercak coklat kemudian mati
6.sexava sp., hama tanaman yang merusak tanaman kelapa
7.Ulat Tirathaba (Tirathaba sp), berwarna coklat kemerahan, bersembunyi dibawah kotorannya di sela-sela spiklet dan di sela­sela seludang tanaman kelapa sawit.
8.Agrotis sp, ulat yang banyak merusak kulit batang tanaman teh di persemaian

Pengoperasian GPS Etrex 30

Muatan Lokal – Pengoperasian GPS
Created by khalfahrum

CARA Penggunaan GPS Garmin Etrex 30
   1. Cara Memulai
a.         Pasang baterai.
b.        Aktifkan perangkat dengan menekan tombol  “Light” di samping kanan.
c.         Mencari satelit à Pilih menu satelit di layar utama à Cari posisi yang terbuka sehingga penangkapan sinyal dapat dengan mudah & cepat, setelah itu. Diamkan beberapa menit untuk mencapai akurasi satelit yang maksimum ( antara 3m s.d 1m ).

2. Pengaturan GPS
A.    Pilih “Setup” di layar utama.
B.     Setelah itu akan muncul menu lainnya dari setup.
a.       Sistem à Sistem satelit ( GPS ), àWAAS/ EGNOS ( Off ), à Bahasa ( Indonesia), àTipe baterai ( Lithium/ Alkaline/ NiMH ), à Mode USB ( Garmin )
b.      Tampilan à Waktu terang layar ( di sesuaikan sendiri ), à Warna (di sesuaikan sendiri ).
c.       Jejak à Log  jejak ( Tidak merekam ), à Cara rekam ( Otomatis ), àJeda rekaman ( Normal ), à Simpan otomatis ( Ketika penuh ), à Warna (di sesuaikan sendiri ).
d.      Satuan  à Jarak/ Kecepatan ( Metrik ), à Ketinggian ( meter, m/s ), à Kedalaman     ( Meter ), à Suhu (Celsius ) , à Tekananan ( Milimeter Hg/ di sesuaikan sendiri ).
e.       Waktu à Format Waktu (24 jam ), à Zona waktu ( Hongkong/ di sesuaikan menurut lokasi ), à  Hemat siang hari ( tidak ).
f.       Format posisi à Format posisi ( UTM UPS/ di sesuaikan menurut pekerjaan ), à Datum peta (WGS 84)

3. Cara Membuat Titik
a.       Pilih menu “Buat Titik” di layar utama.
b.      Setelah itu, Pilih “Selesai” maka otomatis titik tersebut tersimpan di “Peta” & menu “Kelola Titik”, atau anda juga bisa mengedit untuk mengganti  nama  titik dan simbol yang berada di atas layar.
c.       Lakukan langkah a dan b untuk memulai membuat titik lagi sesuai  dengan proyek anda.

4. Cara Mengukur Jarak atau Mengukur  Titik
a.       Pergi ke menu “Peta” yang ada di bagian atas layar utama, maka akan terlihat semua  titik yang telah anda buat tadi.
b.      Tempatkan kursor di titik pertama yang akan anda ukur.
c.       Selanjutnya pilih tombol “menu” di bagian samping kiri perangkat.
d.      Setelah di tekan maka akan keluar pilhan, anda tekan saja “ Mengukur Jarak “ di pilihan tersebut.
e.       Tarik kursor tersebut ke titik kedua dan tekan, maka akan terlihat jarak diantara titik tersebut.

5. Cara Mengukur Luas Area
a.       Pilih menu “Kalkulasi Area” di layar utama.
b.      Untuk  ketepatan penghitungan luas area, tetapkan patokan utama supaya anda dapat berhenti  ke tempat yang sama dan juga perbesar peta hingga mencapai jarak 5m.
c.       Pilih “Mulai”, kemudian berjalan di sekeliling area yang ingin di hitung.
d.      Setelah kembali ke tempat awal ( patokan utama ), lalu tekan “Kalkulasi” maka akan terlihat hasilnya.
e.       Langkah terakhir di “Save” atau pilih “Ubah Unit” untuk mengedit luas area menjadi satuan
f.       “Meter Persegi” atau pun “Hektar”.
g.      Anda dapat melihat hasilnya di “Kelola Jejak”.

6. Cara Menghapus Titik atau Kalkulasi Area
a.       Masuk ke menu “Kelola Titik” atau “Kelola Jejak”.
b.      Pilih dan tekan salah satu titik atau jejak yang akan di hapus.
c.       Kemudian tekan tombol “Menu” di samping kiri perangkat.
d.      Lalu tekan pilihan “Hapus”.
e.       Untuk menghapus semua data/ File dapat dilakukan dengan mengikuti langkah a, lalu tekan tombol “Menu”, setelah itu pilih “ Hapus Semua”.  Atau pilih “Setup” , lalu tekan “Reset/ Ulang”, muncul pilihan lain, tekan   “Hapus Semua Waypoint” atau “Hapus Jejak Sekarang”.

7. Cara Mencari Titik, Jejak, Kordinat atau Lokasi
a.       Gulirkan tombol ke menu “Mau kemana”(Pencarian ).
b.      Pilih menu ( Titik, Jejak, Kordinat, Lokasi, dll ) .
c.       Setelah memilih menu yang akan anda cari, lalu tekan menu tersebut.
d.      Pilih “Pergi” untuk menuju tujuan yang anda cari.
e.       Khusus untuk mencari kordinat, masukan dulu data titik kordinat yang telah ada, lalu tekan “Selesai”.


SOP - Pembibitan Kelapa Sawit

5.1. PRE-NURSERY

5.1.1.    Jadwal kegiatan pembangunan dan perawatan pre-nursery
a)        Membangun bedengan dan naungan 
b)        Membangun gudang
c)        Memasang sistem instalasi air
d)        Mengisi baby bag dengan tanah dan menyusun di bedengan
e)        Menanam kecambah
f)         Perawatan

5.1.2.    Persiapan pre-nursery

5.1.2.1.       Lokasi pre-nursery harus berdekatan dengan main-nursery. Lokasi ini harus dibersihkan dari gulma serta diratakan tanahnya.

5.1.2.2.       Dibuat bedengan dengan ketentuan:
a)        Arah bedengan memanjang dari Barat ke Timur
b)       Panjang bedengan disesuaikan dengan keadaan lapangan
c)        Lebar bedengan 1,2 meter
d)       Jarak antar bedengan 0,6-1,0 meter
e)        Di tepi bedengan dibuat palang dari kayu
f)         "Guludan" dari tanah tidak dibenarkan karena bisa mempersulit drainase

5.1.2.3.       Naungan untuk pre-nursery tidak mutlak dan dapat ditiadakan jika penyiraman terjamin baik dan teratur. Naungan hanya direkomendasikan apabila penyiraman  tidak  terjamin  cukup  atau  kurang  baik pelaksanaannya.

5.1.2.4.       Untuk bahan atap naungan bisa dipakai pelepah daun sawit ataupun plastik net dengan 60 % shade (naungan).  Tinggi tiang atap kira-kira 2 m (dengan bagian tiang sedalam 0,3 m tertanam di dalam tanah) dan lebar jarak antara 2 (dua) tiang seki­tar 1,5 m.  Pada kira-kira 10 minggu setelah tanam (dua daun) naungan berangsur-angsur dikurangi sehingga dalam waktu 2 minggu kemudian naungan sama sekali dihilangkan (setiap selang waktu 4 hari naungan dikurangi seperempatnya).

5.1.3.    Polybag, tanah dan pengaturannya

5.1.3.1.       Polybag untuk pre-nursery adalah baby bag dengan ukuran lebar 15 cm, panjang 23 cm dan tebal 0,1 mm, warna hitam dan terda­pat lubang-lubang drainase. Kebutuhan baby bag untuk per ha tanaman  di lapangan adalah 200 lembar + 2 %.

5.1.3.2.       Tanah yang digunakan untuk media adalah tanah lapisan atas (top soil) dan tidak bercampur dengan batu-batu/kerikil. Tekstur tanah sebaiknya lempung berliat dan mempunyai sifat drainase yang baik.

5.1.3.3.       Top soil diayak dengan ayakan 1 cm untuk memisahkan bongkah-bongkah tanah dan sisa-sisa akar/kerikil. Tumpukan tanah yang telah diayak ditutup dengan terpal plastik sehingga tidak kehujanan dan pengisian tanah dapat berjalan lancar.

5.1.3.4.       Tanah  yang  telah  diayak dicampur dengan pupuk TSP/RP sebanyak 10 gr/ baby bag.

 PERHATIAN: Pada waktu pencampuran, tanah harus kering dan pencampuran tanah dengan pupuk  TSP/RP harus merata

5.1.3.5.       Isikan tanah tersebut ke baby bag (+ 1 kg/baby bag) dan dipadatkan.

 PERHATIAN : Jangan sekali-kali mengisi tanah basah apalagi yang berkadar liat tinggi kedalam baby bag karena akan terjadi pemadatan yang akan berakibat buruk terhadap pertum­buhan akar

5.1.3.6.       Baby bag disusun rapat dan rapi sehingga membentuk bedengan selebar + 120 cm    (12 baby bag) dan panjangnya tergantung pada jumlah bibit per nomor kelompok.  Penyiraman dilakukan tiap hari agar tanahnya kompak.

5.1.3.7.       Pinggiran bedeng diberi palang kayu agar baby bag tidak roboh. Antara bedengan dibuat jalan kontrol dengan lebar + 50 cm memanjang persemaian. Barisan baby bag yang paling pinggir diusahakan supaya terletak + 50 cm dari tepi atap naungan (lihat Gambar 1.1.).

5.1.3.8.       Baby bag harus siap minimal 1 (satu) minggu sebelum kecambah ditanam dan disiram setiap hari sampai waktu penanaman kecambah.
  
5.1.4.    Papan label untuk nama jenis bibit

5.1.4.1.   Tujuan pembuatan papan label adalah:
a)       Mengidentifikasi jenis dan sumber bibit
b)       Mengetahui keseragaman usia di pembibitan untuk keperluan penanaman di lapangan
c)       Mencatat jumlah bibit dan seleksi

5.1.4.2.   Dibuat papan label untuk pemisahan  kelompok bibit  dengan ukuran 15 x 20 cm, tinggi 30 cm dari permukaan tanah, cat dasar warna putih dan tulisan warna hitam.

5.1.4.3.   Setiap papan label harus menunjukkan: asal kecambah (misal­nya DxP Marihat), nama kelompok, jumlah kecambah ditanam, tanggal kecambah ditanam (Gambar 1.2.).
  
5.1.5.    Penanaman kecambah

5.1.5.1.       Kecambah yang diterima di kebun harus segera ditanam pada hari itu juga atau paling lama 1 (satu) hari setelah penerimaan kecambah.

5.1.5.2.       Kecambah yang masih dalam bungkusan plastik sebelum dibuka terlebih dulu dipisah-pisahkan sesuai dengan nomor kelompok­nya. Sebelum ditanam, semua bungkusan plastik kecambah dibuka dan disimpan ditempat yang sejuk.

5.1.5.3.       Penanaman kecambah harus dilakukan per kelompok. Sebelum penanaman kecambah, baby bag yang telah diisi tanah harus disiram terlebih dahulu.

5.1.5.4.       Kecambah diseleksi terlebih dahulu sebelum ditanam (pedoman seleksi kecambah disajikan pada Gambar 1.4.).  Kecambah yang abnormal, patah, busuk dan sebagainya harus dibuang, hanya kecambah normal yang ditanam. Ciri kecambah normal dapat dilihat pada diferensiasinya yaitu pucuk (plumula) dan akar (radicula) dapat dibedakan dengan jelas.  Pucuk bentuknya meruncing sedangkan akar agak tumpul, panjangnya + 8 - 25 mm berwarna putih gading dengan posisi saling bertolak belakang.

5.1.5.5.       Penanaman kecambah harus dilakukan dengan hati-hati/teliti agar akar dan pucuk tidak patah, dengan cara sebagai berikut:
a)        Buat lubang tepat di tengah baby bag sedalam 2 - 2,5 cm dengan menggunakan jari
b)       Letakkan kecambah dengan posisi bagian akar disebelah bawah dan pucuk menghadap ke atas (Gambar 1.3)
c)        Timbun kembali dengan tanah setebal 1 - 1,5 cm dan tidak boleh dipadatkan
d)       Kecambah yang belum jelas perbedaan bakal akar dan daunnya dapat ditunda penanamannya, sedangkan yang terlalu panjang akarnya dapat dipotong + 5 cm dari pangkalnya

e)        Setelah selesai penanaman harus segera dipasang papan label berdasarkan nama kelompok kecambah  yang  ditanam